Laman

BLOG INI MENYEDIAKAN APA YANG ANDA BUTUHKAN.. JANGAN LUPA KEMBALI LAGI YA...

Selasa, 08 Februari 2011

Budidaya Jamur Kancing/Campignon

Tahapan budidaya jamur kancing pada dasarnya hampir sama dengan jamur kompos lainnya seperti jamur merang yaitu dimulai dengan pembuatan kompos, sterilisasi, inokulasi/penanaman bibit, dan pemanenan. Perbedaannya terletak pada  perlakuan di dalam beberapa tahapannya.

Berikut tahapan-tahapan dalam  budidaya Jamur kancing :
1. Pengomposan
Jerami merupakan salah satu media utama dalam budidaya jamur kancing. Kandungan hara dalam jerami seperti Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) sangat diperlukan untuk pertumbuhan jamur. Hanya saja unsur Nitrogen dalam jerami belum mencukupi kebutuhan jamur untuk tumbuh dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan tambahan media lain yang memiliki kandungan N yang cukup tinggi seperti pupuk organik atau pupuk alami dari kotoran kuda atau kotoran unggas. Selain unsur-unsur tersebut, jamur juga memerlukan  nutrisi dan vitamin yang bisa diperoleh dengan penambahan bekatul/dedak. Untuk menjaga pH media tanam agar tetap netral (pH 7)  diperlukan juga penambahan kapur (CaCo3).  Bahan lain yang sangat dianjurkan untuk  ditambahkan yaitu air kelapa karena kandungannya yang lengkap . Air kelapa kaya akan mineral, vitamin, gula, maupun asam amino yang sangat baik untuk pertumbuhan jamur.
Supaya nutrisi dalam media dapat diserap dengan mudah oleh jamur, media tanam perlu dimatangkan/dilapukkan terlebih dahulu melalui proses pengomposan. Pengomposan selain dapat melapukkan media, juga dapat mematikan mikroba-mikroba patogen/penyakit  sehingga dapat mengurangi kemungkinan kontaminasi.
Beberapa formula media tanam yang bisa digunakan dalam budidaya jamur kancing diantaranya :
a)      Formula 1
  • 100 kg jerami
  • 5 kg Bekatul
  • 2 kg Kapur
  • 1 kg ZA
  • 3 kg Urea
  • 3 liter Air Kelapa
b)     Formula 2
  • 100 kg jerami
  • 10 kg kotoran kuda / kotoran ayam
  • 5 kg bekatul
  • 1 kg urea
  • 2 kg kapur
Teknik Pengomposan :
  • Jerami dipotong-potong (semakin kecil semakin baik) kemudian dicuci dengan air mengalir. Setelah bersih dari tanah dan zat-zat pengotor lainnya, jerami ditiriskan. Kelembaban jerami dijaga antara 60-70% yang ditandai dengan kondisi jerami yang basah tetapi ketika diangkat airnya tidak sampai menetes.
  • Jerami selanjutnya disusun setinggi 10-15 cm, kemudian diselingi dengan menaburkan  kapur, bekatul, dan kotoran kuda/ayam di atasnya.  langkah tersebut  diulang hingga tumpukan jerami mencapai ketinggian  ±1,5 m. Agar pengomposan berjalan dengan baik, tumpukan media jerami sebaiknya  di tutup dengan terpal atau plastik.
Untuk menghasilkan kompos yang merata, lapisan di aduk setiap tiga hari sekali. Tiga hari pertama lapisan diaduk/dibalik sambil ditambahkan urea. Tiga hari kedua atau hari keenam lapisan dibalik lagi sambil ditambahkan dengan ZA. Setiap tiga hari selanjutnya lapisan di balik tanpa penambahan zat lain. Pengomposan dilakukan selama 18-21 hari. Proses pengomposan yang sempurna akan menghasilkan kompos dengan cirri warna yang gelap, tidak berbau, struktur halus/remah dan pH netral (pH 7).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar